Peran serta Jakarta Rescue dalam Pekan Sadar Bencana 2008

News 2 Comments »

21-25 Oktober 2008

JR berperan serta dalam Pekan Sadar Bencana 2008 dengan mengikuti Pameran di Lapangan IRTI MOnas bersama organisasi kemanusiaan lain serta badan pemerintah terkait. Pameran diadakan dengan tujuan meningkatkan kesiagaan dan kesadaran masyarakat maupun petugas dalam penanggulangan banjir di Jakart. Diharapkan tidak terjadi kesimpangsiuran koordinasi saat penanggulangan dan semua berada dalam satu komando.

JR bekerjasama dengan aliansi RAPI RESCUE JakSel, Citarik Sport serta Planet Diving Jakarta menampilkan kesiapan JR dalam penanggulangan bencana serta berbagai pelatihan yang ditawarkan.

kunjungan gubernur DKI ke stand JR  p1100089-copy.JPG   p1100091-copy.JPG   p1100080-copy.JPG   p1100082-copy.JPG  p1100085-copy.JPG  p1100103-copy.JPG    p1100104-copy.JPG

p1100109-copy.JPG  p1100113-copy.JPG   stand JR

JR dan Kopasus

News No Comments »

JR menghadiri peringatan HUT Gultor Kopasus yang diadakan pada 30 Juni 2008

  p1090698.JPG  p1090693.JPG  p1090719.JPG  p1090704.JPG

JR menghadiri pelantikan LetKol Inf Budi Nugroho sebagai Komandan Satuan 81 Kopasus pada 8 Mei 2008

p1090307.JPG  p1090305.JPG  p1090312-copy.JPG

RESCUE dalam konteks IDUL FITRI

News No Comments »

Rescue dalam artian umum sering dikaitkan dengan penyelamatan korban bencana alam seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi dan lain-lain yang sering dialami di Indonesia. Namun, sering kita melupakan rescue dalam bencana sosial, yang mengancam keselamatan sosial manusia , seperti bahaya putus sekolah, ancaman penggunaan narkoba dan zat adiktif, kemisikinan (materi) bahkan juga kemiskinan jiwa. Upaya penyelamatan menjadi bermakna luas manakala dihadapkan pada kondisi manusia, kelompok, masyarakat bahkan lingkungan yang perlu diselamatkan; karena kerawanan dan kerentanan yang mengancam mereka. Rescue juga bermakna menyelamatkan kualitas diri kita dari bencana diri, kekurangan, kesalahan, kemiskinan iman, kekhawatiran dan kekurangbermaknaan.

Melewati bulan Ramadhan yang telah berlalu, kembali kita diingatkan untuk secara sadar menilik ke dalam diri ; ke dalam batin; masa yang telah dilalui; sedang dijalani dan yang akan dihadapi. Manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia secara hakiki  adalah baik; bahwa dalam perjalanan hidup mereka melakukan kesalahan adalah kecenderungan umum manusia. Tidak ada manusia yang ingin menjadi buruk / jahat. Apabila melakukan kesalahan; dan dengan sadar atau disadarkan oleh orang lain bahwa hal tersebut salah, sangatlah lumrah kemudian sesal terbentuk dan niatan untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang sama ternyatakan. Saling memaafkan dan mengampuni menjadi satu tindakan luhur yang diharapkan muncul; menyerupai Allah yang pemaaf; yang pengampun.

Apa kaitan rescue dalam hal ini?dalam kehidupan manusia; kita tidak lepas dari konflik; kecil ataupun besar. Keihlasan untuk mengampuni dan tidak mengungkit kembali kesalahan lampau menjadi satu titik “penyelamatan” awal yang dapat kita lakukan untuk sesama kita. Kadar emosi menjadi satu penentu untuk mengukur tingkat penyelamatan kita terhadap sesama. Apalah makna rescue dalam konteks menyelamatkan sesama apabila diri kita sendiri tidak mampu kita selamatkan. Sikap kita dalam menanggapi suatu permasalahan dengan upaya memahami yang mendalam, menjadi suatu tantangan dalam penyelamatan diri. Apabila kita ingin dipahami, maka belajarlah memahami orang lain. Kecenderungan untuk selalu ingin dipahami, akan menyebabkan tingkat egoisme yang tinggi, ingin menang sendiri, mau selalu didengarkan tapi tak mau mendengarkan, tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk bicara. Lebih baik tilik dalam diri kita sendiri, sudahkah saya memahami orang lain? apakah saya selalu ingin menang sendiri, tidak memberi kesempatan orang lain berbicara?

Konflik menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari dan banyak orang ingin menghindar darinya. Bila kita sering terlibat konflik, perlu ditelaah, kita kah atau orang lain kah yang menjadi masalah? Konflik dapat terhindarkan bila kita bisa lebih sabar dalam melihat masalah, tidak melakukan penilaian( judgement) berlebihan, berpikiran negatif, lebih mampu memahami sesama dan memberi kesempatan pada sesama. Berdiskusi 2 arah menjadi 1 bentuk komunikasi yang efektif dibandingkan komunikasi 1 arah, meminta orang lain hanya mendengarkan saja. Dengan berdiskusi, pandangan-pandangan dapat saling diungkapkan, belajar menerima pendapat orang dan merefleksikan ke dalam diri.Mendiamkan orang lain, (bahasa awamnya”ngambek”) justru bukan mengikuti pepatah “diam berarti emas”. Mendiamkan membawa kerugian pada diri kita dan diri orang lain. Mengkomunikasikan justru lebih bermakna dibanding mendiamkan; orang lain paham maksud kita; kita paham maksud orang lain.

Idul Fitri menjadi satu moment penting untuk saling memaafkan, “dimulai dari titik nol lagi” seperti diungkapkan di iklan televisi. Bulan yang dilalui penuh berkat dan penuh pahala menjadi titik awal berbuat kebaikan dan kebajikan. Marilah kita sama-sama saling berupaya melakukan hal terbaik dalam hidup. Bila ada yang lupa, ingatkanlah. Bila ada yang meminta, berikanlah. Bila ada yang salah, maafkanlah. Selamatkan sesama, selamatkan diri kita.

Selamat Idul Fitri 1429H bagi seluruh pimpinan dan anggota Jakarta Rescue

Mohon maaf lahir dan batin

Pipit

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in